Minggu, Maret 08, 2020

Pagi Terakhir (Akhir)

Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash
Tiga malam beruturut-turut diadakannya sebuah pengajian. Semua yang dikenal datang dan memberikan do’a terbaik baginya. Masih seperti mimpi, duduk termangu, banyak hal yang menjadi pengganggu. Apa iya? Berharapnya tidak. Namun, itu yang kini sedang berlaku.

Sudah letih menangis, berhari-hari sanak saudara silih berganti datang mengunjungi. Memberi semangat kiranya, tabah, sabar, dan ikhlas. Berkali-kali kata itu terus terucap, telinga mendengarnya dengan seksama, tetapi hati yang tidak mau berkompromi. Apalagi akal yang masih saja menolak, Apa iya? Berharapnya tidak.

Baskara dengan angkuh tetap hadir, perlahan-lahan naik ke atas. Panas menyengat mulai terasa seiring jam yang berlalu. Angin pun sibuk bergemuruh dengan halus.  Mengingatkan hari yang sudah kesekian telah pergi tinggalkan. Ketika semakin condong ke barat, akan ramai suara anak-anak pulang ke rumah. Masih ada rasa menunggu sosok yang ditunggu, walaupun tahu itu hanya kabut berbalut rindu.

Almanak terus memanggil sebuah tugas yang telah ditinggal beberapa tanggal. Esok sudah harus kembali ke kehidupan. Apa iya? Berharapnya tidak. Waktu rasanya turut mati, tapi bagi yang hidup tetap harus melalui. Bumi akan terus berputar pada porosnya, menjadi patokan perubahan pagi yang tidak akan terus bertahan. Menuju siang yang juga akan berakhir dengan petang.

Ada beberapa perut yang tetap harus diisi agar tetap kenyang. Maka kewajiban harus tetap dilaksanakan. Sedihnya hati harus dibenam sedalam-dalamnya. Bukan perkara kuat atau tidak, tetapi kesanggupanlah yang menjadi patokan. Terlalu meratapi juga tidak baik. Walau tertatih tetap harus berjalan.

Perih jangan ditanya
Rasa  terkoyak lebar menganga
Sudah ribuan kata penyemangat diingat
Namun langkah tetap saja berat
Tangis tetap saja menjerat

Apa Iya? Berharapnya Tidak.

Lembayung hari ini sudah berhasil dijejaki. Dengan dijejal segala proses sulit tiap menitya. Sungguh hebat, bagi mereka yang sedang patah namun tetap bisa melangkah. Iya, masih ada senyum dan tawa esok hari, segalanya di dunia ini sudah ada porsinya masing-masing. 

Untuk peristiwa yang tidak pernah diduga, berharap tidak. Akan tetapi tetap terjadi, peristiwa yang membawa pikiran hanyut jauh ke dasar rasa, berteman dengan cahaya yang temaram.

Rasa itu sungguh betah berlama-lama. Mungkin karena yang punya badan enggan menyuruhnya pergi, karena tidak tahu jenis obat apa yang bisa menyembuhkan. Selera pun tidak dengan makanan kesukaan. Hambar tidak berasa, pahit hanya sekedar.

Namun, itu tidak berarti bagi Sang Ayah. Beban kesedihannya sama seperti yang lain, bahkan bisa lebih porsi yang dirasakannya. Sebenarnya ia ingin teriak sekuat-kuatnya, menangis meronta-ronta hendak hantinya. Akan tetapi diam menjadi pilihan, karena sadar menjadi sosok yang terkuat sungguh sangat dibutuhkan untuk momen itu.

Belum lagi kewajibannya menafkahi tetap harus dijalani. Kesedihannya ia batasi, tidak diperlihatkan, tidak diperdengarkan. Kembali merapikan barang perlengkapan pekerjaan. Bekal makanan dan pakaian seragam telah rapi dikenakan. Bersiap-siap untuk melanjutkan pekerjaan, rutinitas wajib untuk dilakukan.

Langganan yang biasa berjumpa pun heran melihatnya. Baru beberapa hari ditinggal pergi oleh anak kesayangan, sudah lanjut bekerja hari ini. Mencoba menghibur dengan satu atau dua kata yang mengajak bercanda. Namun, hanya senyum tipis yang bisa dibalas.

Ingin berlama-lama di rumah dan akan lebih baik bersama dengan keluarga yang masih tersisa. Namun, justru itu mereka yang di rumah harus dikuatkan dengan tindakan, salah satunya dengan melihat kepala rumah tangga sudah bisa aktif bekerja.


(Ini merupakan kisah nyata, beberapa pekan lalu ada saudara yang kehilangan anak bungsunya. Meninggal saat perjalanan menuju sekolah. Dan, Sang Ayah beberapa hari kemudian, walaupun sedih dirasa sudah harus pergi bekerja mencari nafkah).

Semoga pesannya dapat tersampikan, dan selamat membaca. Baca cerita awalnya di Pagi Terakhir (1)

Minggu, Februari 09, 2020

Pagi Terakhir (1)


Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash
Terkadang ada rasa yang harus segera dilawan. Sebuah kisah panjang yang masih harus diperjuangkan, tidak ada kata besok atau nanti. Sekarang dan harus saat ini, semuanya terasa seperti biasa. Banyak peristiwa tapi selayaknya tidak terjadi apa-apa. Beban yang dipikul terlalu berat lebih dari rasa, yang tidak berhak untuk merasa.

Menangis bisa ditahan perih hatinya tidak terlihat. Kewajiban untuk keluarga di rumah. Seorang ayah membanting tulang, bersahabat dengan peluh keringat. Hanya ingin menafkahi pikirnya, itu yang diingatnya.

Padahal anaknya baru saja pergi. Jauh tidak kembali, mendadak terbaring. Baru saja pagi tadi berjumpa. Berpamitan ingin ke sekolah. Telepon berdering seketika, yang di rumah memberi kabar, sedih dan perih ketika berbicara. Terbata-bata berkata, tidak sampai hati menyampaikan. Sang buah hati telah berpulang.

Pagi itu memang tidak seperti kebiasaan. Bangun dan selalu riang, menyempatkan untuk sekedar sebentar menjahili Sang Kakak saat bersiap-siap ke sekolah. Akan tetapi, hampir tidak terdengar sama sekali suaranya. Terlalu banyak diam, hingga berpamitan dengan kata-kata singkat. Keluarga pun tidak merasa ada yang janggal. Mungkin, hanya sedang tidak ingin berbicara.

Pakaian seragam berwarna coklat terakhir yang terlekat. Hanya berjarak beberapa meter,tidak banyak menit yang dibutuh untuk waktu yang telah ditempuh. Kabar sedih itu datang mendadak dari mereka yang berangkat beriringan bersama. Bahwa yang disayang sudah tidak bernyawa.

Masih bingung dengan keadaan. Akan tetapi harus menghadapi kenyataan yang menyedihkan. Segera menuju tempat yang telah disebut, tubuh telah terbujur kaku.Padahal, masih banyak hal yang ingin dilakukan. Perjalanan ke sekolah yang tidak terselesaikan, anak kesayangan telah pergi meninggalkan.

Pagi itu menjadi perjalanan terakhirnya
Pagi itu menjadi seragam terakhir dikenakannya
Pagi itu si ibu menangis
Pagi itu si ayah menangis

Seluruh orang sangat kehilangan
Dengan mendadak ia pergi meninggalkan

Banyak suara yang meronta
Menjerit tak karuan
Menderu Isak tersedu

Pagi itu ia masih ada
Pagi itu juga ia telah tiada

Suara ramai klakson, terang lampu kendaraan menjadi temannya di sepanjang malam. Menyetir melawan kantuk, bersiaga dan waspada. Namun malam itu dihiasi lantunan do'a terbaik untuk ketenangan si bungsu kesayangan. Sang ayah ikut di tengah-tengah barisan. Duduk bersama para tetangga agar anaknya tenang di tempat barunya.

Dering telepon menyeru lekas balik ke rumah. Untuk hari itu, sang ayah tidak menyetir. Memutar balik arah untuk pulang. Momen terakhir mengantarkan anaknya, hari yang sangat mengejutkan baginya. Ia kira akan bekerja seharian, menyetir kendaraan dengan roda-roda besar seperti biasa. Pulang ke rumah jika sudah waktunya dan anggota keluarga dengan jumlah yang utuh akan menyambut kedatangannya. Termasuk si bungsu.

Namun, hari itu harus pulang bekerja lebih awal. Langsung meletakkan pekerjaannya, bergetar tubuh mendengar kabar duka. Sang Ayah mengira hanya kecelakaan biasa, padahal puteranya sudah tidak bernyawa. Jika dengan sakit bisa diobati, bagaimana dengan kehilangan? Tidak akan bisa dimiliki lagi. Beberapa hari akan meratapi, begitu cepat puteranya pergi.

Ingin memutar waktu
Tetapi sudah berlalu
Yang pergi tidak akan kembali
Yang pergi tidak dapat dijumpai lagi

Peluh keringat mencari nafkah
Untuk mereka yang di rumah
Tetapi keluarganya tidak lagi sama
Ada yang tidak bersama

Kue ulang tahun sudah ditempah
Bentuk dan rupa sesuai selera
Tetapi do’a dilantunkan berbeda
Sungguh malang nasib badan
Telah pergi meninggalkan

Senin, Januari 27, 2020

Larik Kata Dan

sumber gambar : undraw.co
Larik suluh ini berdebaran
Berpadu dengan padmarini kehidupan
Sebuah rasa, dirasa setiap manusia

Larik lusuh ini berdebaran
Kama di asa, mala turut menyerta
Notasi berbunyi ditiap-tiap nada berbeda

Jantung berdetak, napas berhembus. Irama kehidupan menyatu dalam roda takdir yang tidak akan pernah berhenti berputar. Selagi hidup, akan banyak perasaan yang dialami, persimpangan yang di lalui. Selama itu pula akan dipenuhi banyak emosi yang mengisi jiwa atau menguras pikiran. Kebimbangan sukar dihilangkan, kekhawatiran erat digenggaman.

Perasaan yang selalu dialami setiap manusia yang hidup. Banyak macamnya, rupa dan warna. Tidak dapat disamakan, bentuk yang satu dengan yang lain. Terkadang ego menguasai jiwa, marah tidak dapat dipendam, tangis berlarut-larut dalam lara. Beberapa kejadian malang, ditinggalkan oleh dia atau mereka yang sudah menghilang.

Atau bahkan, seharian merasa kebahagiaan. Mulai subuh hingga petang, banyak bertemu orang-orang. Hanyut ketika mendengar sebuah kisah, hingga hati ini tergugah. Setiap detik yang berpacu, maka banyak lahir cerita-cerita baru. Dari ujung sana sampai sudut di situ, menyimpan berbagai gambaran dalam hidup.

Ingin memberi faedah agar cerita duka sedikit memberi rasa bahagia. Dengan deret kata-kata ini, berharap dapat menemani yang sedang patah, marah, terluka. Terkadang perlu menangis, juga perlu tertawa. Banyak pengalaman yang telah dibagi oleh orang-orang di sekitar. Dari hal itu dapat diambil pembelajaran dan hikmah.

Deretan kata dari halaman di Blog ini ditulis dengan tujuan untuk saling menyemangati dan menemani, segala rasa hati yang sedang dialami. Bait-bait puisi menjadi penghibur dikala suara enggan terbuka. Berharap bisa meringankan luka, enggan memberi label kebijaksanaan, karena masih jauh dari kesempurnaan. Jika pembaca menjadi termotivasi, maka saya mengucapkan banyak terimakasih dan bersyukur sekali. Alhamdulillah.

Sebagai seorang introver, awalnya sering memendam rasa. Sulit untuk bicara, maka dari itu kukatadan.com, berasal dari singkatan Ku Kata Dan(Dan diambil dari nama saya, Lusi Dan). Maknanya ialah Blog yang mewakili perkataan atau perasaan yang sedang saya alami. Hal ini menjadi wadah untuk bercerita. 

Seiring waktu juga melampirkan pengalaman-pengalaman dari teman-teman, keluarga, orang asing yang bertemu di jalan, dan lain-lain. Seperti yang sudah dituliskan di atas, bait puisi kian menemani, menjadi pelipur lara, berprosa dengan kosakata, berirama disetiap paragraf yang telah tercipta.

Rabu, November 06, 2019

Rumah Yang Hangat

Awalnya hanya tahu menulis. Tidak terarah juga menempatkan kata semaunya. Tanpa pernah berpikir, bahwa tulisan indah akan lebih menyenangkan dan sampai ke hati dengan baik. Penempatan kalimat yang tidak karuan, sangat acak-acakan. Ibarat sebuah rumah, perabotan yang ada di dalamnya diletakkan begitu saja.

Beberapa waktu lalu, mengenal sebuah komunitas. Selama dua bulan, banyak yang telah dipelajari. Salah satunya ialah genre dalam menulis. Tantangan demi tantangan dilakukan, mencoba segala macam tulisan. Selalu bertanya dalam diri, mampukah? Mengingat semua yang diberikan, baru pertama kali mengetahui. Dengan dukungan teman-teman se-tim, yang tiada henti menyemangati dan saling mengingatkan, Alhamdulillah, bisa terselesaikan.

Melalui tantangan-tantangan tersebut, ternyata menyadari bahwa diri ini sangat menyukai puisi. Nyaman dengan genre ini, bait-bait yang tersusun dapat menyampaikan sebuah pesan. Yang cukup rumit jika langsung disampaikan. Adanya diksi, rumah yang tadinya berantakan, mulai rapih tertata. Perkata dapat bermakna, tidak lagi tergeletak begitu saja.

Dan komunitas ini, seperti rumah untuk menetap. Bukan persinggahan apalagi hanya sekedar perjumpaan. One Day One Post, begitulah namanya, sebuah komitmen yang tertanam dalam diri. Agar konsisten dalam memilih jalur ini. Yaitu menjadi penulis yang baik dan benar, juga dapat bertahan dengan derasnya gelombang kemalasan. Yang siap menghampiri kapan saja dan dimanapun berada.

Seperti rumah, maka orang-orang yang terlibat di dalam komunitas ODOP ini, juga seperti sebuah keluarga. Saling bertegur sapa, walau hanya sebatas dunia maya. Namun, semoga kelak bisa berjumpa dan bercanda tawa bersama dengan nyata.

Tetapi, ilmu yang telah diraih benar adanya. Sangat memuaskan untuk orang seperti saya yang butuh banyak pelajaran. Semoga komunitas ODOP tetap berlangsung, menjadi sebuah rumah yang mencetak banyak penulis-penulis berbakat. Meramaikan dunia literasi di Indonesia. One Day One Post.

Sabtu, November 02, 2019

Keyboard Biru (Akhir)

Photo by Nhu Nguyen on Unsplash
(Akhir)

Menimbang-menimbang
Dalam hati yang bimbang
Sudah ada kehendak yang ditetapkan

Setelah beberapa hari, pikiran selalu berkutak dengan pilihan-pilahan. Rancu dengan hasrat yang singgah silih berganti. Sebentar-sebentar memilih yang itu, sebentar-sebentar  memilih yang ini. Beberapa waktu yang lalu, angan tidak menentu. Lalu mencoba untuk memilah, mana yang lebih dulu untuk dipenuhi.

Memilah mana yang memiliki kemanfaatan dalam waktu berkepanjangan. Tatanan keperluan bukan hanya untuk seorang, apalagi hanya sebenda. Rezeki yang diperoleh hari ini, harus digunakan dengan baik. Membuang jauh-jauh jeri yang setia singgah. Berupaya menghanyutkan asa dalam hasrat tak berarah.

Menyukai musik dan senatiasa ingin mendengarkannya. Maka, kedua benda itu bisa memenuhinya. Untuk belajar, membuat gambar, berpraktek sesuai kejuruan, hanya satu yang sesuai kriteria. Ketika dimasa depan ada sebuah hal yang tetap terpakai. Tidak lekang oleh waktu, setiap waktu juga dapat digunakan saat perlu ditemu.

Keefektifan dan efisiennya penggunaan, penting untuk diperhitungkan. Terkadang asa yang menggebu-gebu, hanya bertahan disaat-saat tertentu. Saat tidak sesuai harapan lagi, menyesal pun kemudian.

Pengar hati mulai terasa, maka untuk mengakhirinya. Menetapkan pilihan, yang sudah lama dinanti. Dengan penuh keyakinan dan kemantapan, memberitahukan kepada kedua orang tua, bahwa laptop adalah benda yang lebih perlu untuk dimiliki.

Handphone, hanya keinginan bukan kebutuhan. Yang suatu saat nanti bisa dipenuhi. Untuk saat ini, mensyukuri apa yang telah dimiliki. Bisa berkomunikasi, mendengarkan radio yang mengalunkan lagu-lagu dari band favorit sudah cukup menghilangkan kejenuhan. Jika ingin mendengarkan musik yang lebih banyak lagi, akan dilakukan melalui laptop.

Dan, Alhamdulillah. Keputusan itu, hingga kini tidak pernah disesali. Justru akan kecewa jika tidak memilihnya. Karena, benar adanya, dapat memberikan banyak manfaat. Dibeli sesuai warna kesukaan, biru, namun kini lebih gelap. Tidak tersedia yang lebih muda.

Dapat menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Mengulang pelajaran di rumah dengan lebih mudah. Huruf-huruf terketik dengan lancar. Bahkan sampai lulus sekolah, masih dapat digunakan. Saat kuliah, terutama ketika semester akhir. Menyelesaikan skripsi menjadi hal yang menentukan. Namun, adanya laptop tidak perlu lagi bimbang dan bersusah payah. Kapanpun dan dimanapun, bisa menyelesaikannya.

Tombol-tombol manis, yang tidak akan pernah berhenti untuk bertemu dengan ujung jari-jemari. Menghasilkan kata-kata yang berjejer memanjang, dan membentuuk tulisan bermakna. Huruf-hururf disusun dengan sedemikian rupa, agar tidak ada yang salah.

Tombol-tombol manis, melekat dan menyatu di mesin elektronik. Dengannya, menyelesaikan kalimat yang tak karuan, menjadi penyambung harapan.

Keyboard Biru (4)

Photo by Nhu Nguyen on Unsplash
(4)
Layarnya sebesar 14 inch, sangat luas untuk memandang. Tidak seperti handphone yang sangat kecil. Secara kegunaannya, laptop memiliki banyak hal yang bisa dimanfaatkan. Memasuki 2010 menggunakan komputer atau sejenisnya sudah banyak digandrungi. Untuk kebutuhan perkantoran ataupun pribadi. Processor Pentium dual core merupakan perangkat tercanggih pada saat itu.

Tugas merupakan amanah dari guru untuk dilakukan. Beresiko dihukum jika tidak selesai pada waktunya. Apalagi si Uci masuk ke dalam sekolah kejuruan, yang sudah pasti banyak melakukan kegiatan praktek mengenai bidang komputer.

Fasilitas di sekolah sangat memadai untuk proses belajar murid-murid. Tersedia laboratorium desain grafis, laboratorium jaringan, laboratorium untuk komputer dasar. Begitu juga dengan jurusan-jurusan lainnya. Masing-masing memiliki fasilitas yang lengkap sesuai bidangnya. Namun, yang menjadi kebingungan ialah, ingin memiliki laptop dan juga handphone sekaligus.

Pada saat itu, merasa keduanya merupakan kebutuhan yang perlu untuk dipenuhi. Pada saat, di sekolah, bisa memanfaatkan fasilitas yang ada, jika ada tugas selesai jam belajar, maka harus pergi ke warnet untuk menyelesaikannya. Biaya untuk ke warung internet memang cukup murah. Sesuai dengan uang saku anak-anak sekolah.

Dulu, pemakaian warnet selama satu jam, dikenai tarif Rp 3.000. Jika dua jam Rp 5.000, bisa mendapatkan diskon. Ketika selesai menyusun materi tugas, maka akan segera dicetak dan dibuat dalam bentuk kliping. Ada perasaan antusias, ketika membuat label nama. Menggunakan fasilitas Word Art pada aplikasi Microsoft Word, memilih bentuk-bentuk tulisan yang berwarna-warni, berbagai macam bentuk.

Agar label nama terlihat menarik. Biaya mencetak dokumen juga cukup murah. Dibedakan berdasarkan, isi setiap satu halaman. Jika terdapat gambar, maka harganya Rp 1.000, jika tidak ada maka Rp 500. Dan terkadang sering dibantu oleh penjaga warnet, jika ada kesulitan saat mencari materi. Atau bahkan jika koneksi internet sedikit terganggu.

Perbedaan harga terletak pada tinta yang digunakan. Untuk mencetak halaman yang terdapat gambar, maka menggunakan cartridge warna yang jika rusak akan memakan biaya yang mahal. Oleh sebab itu, ongkosnya tidak sama. Namun, letak warnet yang cukup jauh dari rumah, juga menjadi salah satu kendala saat ingin menyelesaikan tugas.

Kebingungan pun semakin menjadi-jadi. Antara laptop dan handphone hanya boleh memilih salah satu.

Ketika hati menginginkan ini
Namun juga menginginkan itu
Hanya boleh satu
Dua dan tiga tak ada
Bingung menetap dan selalu menghampiri

Kamis, Oktober 31, 2019

Keyboard Biru (3)

Photo by Nhu Nguyen on Unsplash
(3)
Karena belum lengkapnya fitur yang ditawarkan, oleh sebab itu, tebersit dalam hati ingin membeli handphone yang terbaru. Dengan ukuran yang lebih tipis, agar semakin mudah untuk dibawa kemanapun. Tetapi, mengingat kembali tentang dua pilihan yang diberikan oleh orang tua. Tidak sepatutnya untuk dibantah. Karena memang untuk kebaikan. Maka hanya boleh memilih salah satu dari hal tersebut.

Dan yang pilihan kedua, mengenai penggunaannya untuk kegiatan belajar. Setelah lulus dari sekolah menengah pertama, segera melanjutkan tingkatan yang berada lebih tinggi di atasnya. Kelas-kpelas dibedakan melalui beberapa jurusan. Seperti teknik komputer dan jaringan, teknik gambar bangunan, budidaya perikanan, mesin otomotif, mesin produksi dan teknik konstruksi kayu.

Sebuah sekolah negeri menengah kejuruan. Yang lebih banyak diminati oleh anak laki-laki. Dan Uci, memilih jurusan teknik komputer dan jaringan. Untuk di kelas ini lumayan banyak murid perempuan. Untuk menunjang kegiatan belajar, butuh laptop sebagai bahan praktek keseharian. Bahkan sewaktu baru memulai belajar, sudah dihadapkan dengan tugas-tugas.

Jika memiliki laptop, maka tidak perlu repot-repot pergi ke warung internet (warnet) untuk mengerjakan tugas, selalu diketik kemudian dicetak. Biasanya perlu waktu lama untuk menyelesaikannya, memilih dengan benar, materi-materi yang sesuai dengan persyaratan pengerjaan. Menyusun jarak spasi antar kalimat agar rapih terlihat. Lumayan menyita waktu proses penyelesaiannya.

Tidak lupa untuk melengkapi dengan gambar-gambar, agar semakin jelas dengan materi yang dikerjakan. Dan ke depannya juga akan semakin banyak tugas-tugas  yang lain. Oleh sebab itu, perlu adanya laptop. Dan saat itu, Alhamdulillah sedang ada rezeki cukup untuk membeli keperluan. Namun, hanya boleh memilih satu, diantara dua pilihan itu.

Fitur yang dimiliki laptop, jauh lebih lengkap dari handphone. Bisa memutar musik, menggambar desain-desain animasi, berkirim pesan juga bisa (e-mail), ada kamera yang bisa berfoto dan merekam video. Tersedia CD-ROM untuk memainkan film kesukaan, melalui file yang tersimpan dalam disc tersebut.

Bersambung........

Keyboard Biru (2)



Photo by Nhu Nguyen on Unsplash
(2)
Suatu ketika pernah, ada peristiwa yang tidak pupus dari ingatan. Saat sedang mengobrol, sambil menyantap buah jambu yang dibawa oleh salah seorang teman, niatan ingin berfoto sebagai kenang-kenangan. Karena pada saat itu berada di penghujung akhir sekolah menengah pertama. Mendekati kelulusan. Namun, ada yang aneh.

Gambar itu diambil bersebelahan dengan seorang teman. Di sebaris itu hanya ada dua orang. Namun, penglihatan ganjil terjadi. Dilihat dengan seksama dan penuh perhatian. Aneh. Benar-benar aneh.

“Woy teman-teman, lihat ini potonya, kenapa bisa jadi begini ya?”,sambil menyodorkan handphone yang sedang dipegang.

“Maksudnya? Aneh kenapa?”, tanya seorang teman keheranan.

“Tadi fotonya berdua, ini hasilnya bertiga”.

Seketika keadaan langsung menjadi hening. Situasi ramai dengan suara obrolan, mendadak menjadi diam. Masing-masing saling melihat sekeliling. Memastikan, bahwa yang berada di ruangan kelas itu hanya ada mereka. Tidak lebih dan tidak kurang. Namun, kenapa difoto itu bisa bertambah jumlahnya.

“Yaudah, itu fotonya dihapus aja Uci”.

“Iya ini, ku hapusaja ya, jadinya serem gini”.

Lancar jari mencari menu pilihan untuk menghapus foto tersebut. Membuat jantung berdebar, karena tebersit rasa takut dengan keanehan yang baru saja terjadi. Kembali menyantap buah jambu, namun pikiran cemas dan penasaran masih menggelayut dalam pikiran. Atmosfir dalam ruangan kelas itu pun turut menjadi tidak karuan. Tidak ingin terulang kembali, segera Uci dan teman-temannya  keluar dari tempat itu. Menuju lapangan olahraga, di sana lebih banyak murid-murid sedang berkumpul.

Sejumput kenangan di penghujung kelulusan sekolah menengah pertama. Berkesan hingga kini. Terdapat kenangan dari sebuah benda kecil, yang disebut handphone itu. Karena belum memiliki spesifikasi untuk memutar musik, maka dulu, mendengarkan radio adalah kegiatan setiap hari yang dilakukan. Bahkan sampai hapal dengan waktu-waktu dimana, lagu-lagu dari band favorit didendangkan. Juga dulu pernah "request", dan tidak lupa untuk mengucapkan salam-salam khas, kepada seluruh para pendengar.

Layaknya gelap malam
Yang indah karna bintang
Layaknya sang penyair
Yang elok karna puisi

Bagiku kau bintang
Selayak puisi
Tetaplah di sini peri kecil ku

Bagiku kau bintang
Selayak puisi


Temani aku selamanya
Selamanya

Sambil mendengarkan lagu, melatih diri menyusun kata-kata. Bait demi bait, bisa menggantikan ucap yang terbungkam. Tidak mengenal majas apapun saat itu, hanya tahu, bahwa dari sajak yang telah dibuat. Ada kalimat-kalimat indah yang bisa menyentuh hati.

Bersambung......

Keyboard Biru (1)

Photo by Nhu Nguyen on Unsplash
(1)
Ditentukan oleh dua buah pilihan. Hanya boleh memilih satu diantaranya. Mencetak bimbang dengan jelasnya. Mata menanar, hati ingin keduanya. Tapi, terlalu tamak untuk memiliki keseluruhan. Egois jika berhasrat seperti itu. Tapi, keinginan tetap berseteru. Memburu rasa untuk segera terpuaskan, masih buta untuk menetapkan.

Situasi yang membuat pusing kepala. Jika dituruti, semuanya hendak dilakukan. Apalagi selalu melihat orang-orang sekitar menggunakannya. Sudah berandai-andai, suatu hari nanti ingin mengantongi benda itu. Membawanya ke sana dan ke sini. Bisa berjalan sambil menggenggamnya, suatu alat yang cukup canggih dimasanya, juga dapat dibawa kemanapun, dimanapun. Terpenting ada daya yang cukup untuk menyalakannya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan benda itu. Berfoto, berkirim pesan singkat, menelepon. Yang paling disuka ialah, bisa mendengarkan radio. Alunan lagu-lagu favorit merupakan asupan energi pemberi semangat, untuk melewati hari-hari. Ada satu grup band kesukaan, yang  tidak pernah ketinggalan untuk didengar.

Kata-kata yang terkias di dalamnya, menggambarkan perumpamaan yang luas. Selalu kagum dengan lirik-lirik lagu, bermakna, mewakilkan isi kepala. Dan jika sulit untuk bicara, maka kata yang akan tertulis. Bersajak, hanyut dalam untaiannya. Huruf demi huruf, tergores manis dari ujung pena. Indah terukir, lembut terucap.

Benda kecil namun, memiliki banyak fungsi. Bisa saling berkomunikasi, jika ada pulsa terisi. Begitulah cara kerjanya. Dengan fitur-fitur tersebut, menjadi canggih dimasanya, dan tentu saja banyak peminatnya. Berbondong-bondong orang-orang ingin memiliki itu. Berbagai merek, saling menunjukkan kelebihan. Dan harga yang menjadi teman untuk saling bersinggungan.

Istilah yang terlontar ialah, tidak gaul jika belum memiliki itu. Handphone sebuah perangkat yang mulai menarik perhatian. Menjadi kebutuhan sekunder dikala itu. Memang belum merata, namun, sudah cukup banyak yang punya. Terutama untuk anak yang baru menginjak remaja, dimana rasa untuk mengikuti perkembangan zaman sangat menggebu-gebu.

Teman-teman sebaya, terlihat membawa handphone kemanapun beranjak. Sebenarnya ada, dan juga sudah punya. Tapi keinginan belum terpuaskan. Ingin memiliki yang terbaru. Milik yang lama belum bisa mendengarkan musik. Hanya dapat memutar radio. Namun, bisa berfoto dengan kamera yang hanya berspesifikasi rendah. Mengambil gambar seadanya.

Tapi cukup manis penampilannya. Dengan warna kesukaan, yaitu biru. Bukan pekat seperti laut, sedikit lebih terang, menyerupai  langit. Ada aksesoris tambahan, tergantung di bagian tepi. Layar memanjang tidak lebih dari sepanjang jari kelingking. Lumayan ramping, pas jika dimasukkan ke dalam saku. Tapi, handphone pada saat itu, sudah pasti tebal ukurannya.

Bersambung........

Di Akhir Pertemuan

Photo by Ian Schneider on Unsplash
Kaki melangkahkan ke satu tujuan. Memusatkan perhatian, tertuju dan tak berpaling. Seluruh bumantara menjadi saksi ketika niat sudah terucap dalam hati. Terpatri dengan kuat, erat mengikat, agar tak mudah goyah bahkan jangan sampai terlepas. Apapun yang ditemui saat perjalanan nanti.

Proses pun dimulai. Meniti satu demi satu tahapan yang telah direncanakan. Menggebu-gebu saat permulaan. Mencoba segala sesuatu hal yang berhubungan dengan perencanaan. Mulai berangan-angan, keinginan akan mudah didapatkan. Kelak menjadi orang yang memiliki prestasi dan kebanggaan lainnya.

Namun, yang terjadi di dunia nyata tidak seindah hayalan. Satu persatu segala macam hal yang membuat halangan dan rintangan, dan menjadi beban pikiran pun bermunculan. Menyerah? Merupakan kata dan hasrat yang selalu mampir dengan rutin untuk singgah. Terutama disaat-saat sedang terpuruk. Situasi dan kondisi tidak mendukung untuk terus melaju.

Bahkan, seperti ada magnet yang menarik dengan kuat. Untuk selalu berdiam diri di tempat. Menghempas mimpi-mimpi yang telah disusun rapih. Membenam ke dalam rasa kemalasan yang kelam. Sempat tebersit untuk tidak meneruskan sama sekali. Berhenti merajut benang-benang angan, hingga tertusuk jarum hayalan.

Akan tetapi, cahaya sedikit demi sedikit berpendar. Sorot pandangan yang membias temaram, mulai tampak berpijar. Ketika ada niat maka ada jalan, begitulah kiranya pepatah yang sering terdengar. Terlalu lama memendam mimpi yang nyaris sirna. Kini telah bertemu dengan orang-orang yang sepaham, dan memiliki tujuan yang sama.

Kembali mengurai benang-benang kusut. Sungguh carut-marut. Perlahan-lahan, meluruskan sulamannya. Berada di lingkungan yang  sangat mendukung untuk sebuah kemajuan.  Perubahan pun dirasakan. Tadinya tidak tahu, menjadi tahu. Rasa acuh menjadi candu. Selalu tertagih untuk mempelajari hal-hal baru.

Pertemuan yang sangat menyenangkan. Ada sebuah lagu yang mengena di hati

Jalan ku hampa
Dan ku sentuh dia

Terasa hangat

Oh di dalam hati
Di ruang rindu
Kita bertemu

Perjumpaan kali ini bukan di ruang rindu. Namun, sebuah grup. Yang berisikan orang-orang berpengalaman dalam bidangnya masing-masing. Saling bertukar informasi, memberikan dukungan, membantu dengan senang hati. Sungguh beruntung bertemu mereka. Bercerita banyak hal, tapi yang pasti materi menjadi penulis yang baik dan benar adalah pusat konsentrasi. Bernanung dalam satu perkumpulan, Tim Sapporo.



Sepekan lalu telah dilalui, sebulan telah dilewati. Kisah-kisah banyak terjadi. Mengharu biru. Bertemu, maka ada berpisah. Beberapa pergi meninggalkan, dan yang lain tetap berjalan melanjutkan. Saling menguatkan, agar tetap bersama dalam jalur pendakian. Kini, hampir mendekati puncak. Tinggal beberapa langkah lagi. Tersisa beberapa hari lagi.

Sudah berada di pekan ke delapan. Iya, ini tahap terakhir yang harus dijalani. Sedang berproses menyiapkan ujian akhir. Cukup menguras tenaga untuk menyelesaikannya, tapi ada hikmah dibaliknya. Bisa mengenal lebih banyak lagi peserta yang terlibat.

Pertemuan di grup ini, bukan hanya sekedar ruang berkomunikasi. Tapi adanya silahturahmi dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda. Berbagai macam karakter berkumpul, seluruh daerah di Nusantara menyatu. Jika pun berakhir, dan pasti akan berakhir. Namun, bukanlah perjumpaan yang hanya sekedar berkenalan. Bukan juga untuk mengisi chat yang hampa.

Tetapi, melalui grup ini. Telah membangkitkan semangat, mengingat kembali mimpi yang telah dilupakan. Telah menunjukkan bahwa luasnya dunia menulis, mempelajarinya tidak akan pernah habis. Terpenting dalam perjalanan ini, sudah berhasil menemukan jati diri.

Berakhirnya grup ini, bukanlah akhir dari perjalanan. Justru ini merupakan awal untuk kembali melanjutkan mimpi yang telah lama tertunda. Namun, terimakasih kepada seluruh teman-teman yang sudah banyak membantu. Hanya Allah Subhana wa Ta’ala yang dapat membalas. Semoga selalu dilindungi oleh-Nya, dirahmati dan selalu diberi petunjuk agar selalu memiliki ide-ide yang luar biasa untuk menulis. Aamiin.

Teruntuk Tim Sapporo

Teperdaya rasa untuk lupa
Rengkah raga dan cita bersama
Serentak mengumpulkan rasa kikuk
Malas pun turut meringkuk

Terhalang keraguan
Terhimpit kabut melenakan
Terjatuh dan terjebak
Hilang tak bertujuan

Samar-samar tapak-tapak terlihat
Mengikutinya
Menuju batas ruang dan waktu
Laung terdengar dan menyeru

Masuk ke dalam dimensi berbeda
Berbagai rupa berjumpa
Menyatu dengan asa yang sama

Ramai menyambut bersuka cita
Bak kawan lama yang baru bersua

Daun-daun tak lagi mengering
Ilalangtak lagi gersang

Kopi pahit tersaji
Namun manis dirasa dengan tawa
Mendendangkan angan bersama
Alunan seruling mengantarkan mimpi yang terlupakan

Gemulai jari melukis lagi
Lukisan mencandu dan menagih
Mencetak gemintang dengan jelas
Di angkasa yang luas

Tidak ada diksi yang bisa menggantikan
Tidak ada prosa yang bisa dapat menggambarkan
Deras tercurah kebahagiaan

Kelak bisa berjumpa lagi
Walau telah berganti ruang
Namun akan tetap dikenang

Sampai saat ini dan seterusnya akan terus melanjutkan perjalanan mengerjar mimpi. Proses tidak akan pernah berhenti. Masih banyak yang harus dipelajari. Tulisan ini dibuat untuk saling mengingatkan. Apapun yang sedang diusahakan, maka teruslah lanjutkan. Ketika sudah berusaha dan berdo’a, namun menemui titik buntu. Percayalah, akan ada orang-orang baik yang akan menuntun untuk memberi petunjuk arah.

Ketika sudah berniat, maka semesta akan mendukung. Sebagai perwujudan dari upaya dan do’a yang telah terkabulkan. Tidak ada yang sia-sia, tergantung darimana sudut pandang melihatnya.