Minggu, Februari 16, 2020

Legung Sendu

Photo by Jessica Johnston on Unsplash
Rasa kecewa itu masih ada
Rasa sedih itu masih ada
Sedikitpun tidak memudar

Karena sakit itu terlalu dalam
Letih sebenarnya
Lelah sebenarnya

Tapi, tetap saja
Tangis mengingatkan
Sungguh sesak di dada
Ingin lupa
Tapi tidak bisa

Bukan perkara dendam
Bahkan hingga kini tidak ingin membenci
Sudah seperti saudara sendiri

Tawa masih sama
Menyingsingkan lengan jika diperlukan
Tapi, tetap saja
Tangis mengingatkan

Mungkin karena ikhlas belum ditemu
Marah bisa diredam
Namun, kecewa tetap menggumam

Minggu, Desember 22, 2019

Membeku Dengan Waktu

Photo by Quino Al on Unsplash
Rinduku kian menggunung
Membawa setumpuk gelisah di dada
Menyentuh sukma hati terdalam
Hingga memaksa keluar tetesan tangisan

Mencari-cari di setiap sudut rumah
Aroma tubuh
Repetan setiap waktu

Terlalu banyak penyesalan
Terlalu banyak yang belum diberikan

Sudah sekian tahun
Berlalu dengan angkuh
Sedetik pun enggan kembali
Berjalan dengan keacuhan

Saat itu
Hanya ingin melihat masa itu
Waktu urung terbuka
Kerinduan justru semakin menyiksa asa

Lekat-lekat mengingat
Raut wajah keiput
Menghalang waktu yang terus melaju

Benang rindu ini
Akan selalu tertenun
Cinta tidak akan pernah padam
Hangat bermakna
Walaupun ia sudah tiada

Minggu, Oktober 27, 2019

Sepatu

Photo by Paco S on Unsplash
Mulai lusuh tergerus masa
Hitam pekat menjadi abu-abu
Penuh debu disetiap sudut yang ditemu

Tali-tali berbaris memenuhi lubang di tepian

Tersimpul rapih
Langkah beranjak, meninggalkan jejak-jejak

Hitam legam menjadi kusam

Hanya satu yang dipunya
Hanya satu tersedia

Jari-jari menekuk

Terbungkus rapat
Menyelimuti kaki dengan erat

Rupiah demi rupiah dikumpul

Rasa ingin mengganti yang baru sudah penuh terkumpul
Semoga segera terlaksana
Semoga sepatu baru lekas dipunya

Minggu, Oktober 20, 2019

Menghapus Pupus

Photo by Marion Michele on Unsplash
Pijakan rapuh
Langkah tertatih

Bangun dan beranjak dari tanah basah
Sudah melebur ke dalam sukma
Membuang jauh-jauh pikiran busuk yang mengajak lagi berpasrah

Desiran angin lembut
Terasa menggit dingin di kulit
Tubuh terhuyung
Pandangan samar berkabut

Gemercik air sungai
Nyaring terdengar
Berdebar-debar
Menanti-nanti
Terbawa penasaran, kemana hulunya berujung

Perlahan tampak berubah
Perlahan tampak indah
Terhampar bianglala
Di langit biru, yang dulunya kelabu

Jumat, Oktober 18, 2019

Sebuah Penghakiman

Sebuah Penghakiman
Sehelai rambut
Lalu dibagi
Melewati jalan
Berapi-api
Akankah diri bisa melewati?

Menyaksikan siksa di depan mata
Tubuh menggigil
Tubuh meringkuk
Menunggu giliran yang pasti tiba

Keringat bercucuran
Segela perbuatan dihadapkan
Kemana hendak berlari?
Kemana hendak bersembunyi?
Bahkan raga tak sanggup
Mengelak dari teriknya sinar matahari

Mencari-cari
Meminta-minta
Datangnya sebuah pertolongan
Saat diri dihakimi

Mulut terbungkam
Tangan bergumam
Bersaksi atas perbuatan yang kelam

Pupus (2)

Pupus (2)
Makin terbenam ke ruang yang kelam
Tenggelam ke dasar titik terdalam
Turut terbawa arus hingga menghilang

Lampu sudah tak berpijar
Cahaya gemintang semakin memudar

Cita terkulai menjadi bangkai
Tergantung dan tak tersentuh

Satu persatu perkataan menyeru
Menggunting putus harapan
Menyambung lidah, banyak repetan

Tersemat langkah ingin melanjutkan
Menjahit kembali yang telah terkoyakkan

Namun ragu melekat, menempel begitu erat
Akankah diri sanggup?
Akankah diri mampu?
Jalan buntu selalu ditemu

Pupus (1)

Pupus (1)
Tidak ada yang tersisa
Patah dan bengkok seluruh jiwa
Perlahan namun pasti menggerogoti jari jemari

Gagasan terasa hampa
Sekedar sebentar menjejakkan
Tak ada hasil
Semua nihil

Pena tergeletak begitu saja
Kertas-kertas bersisa percuma

Jemari itu sudah terhenti
Menulis mimpi yang dulu dijunjung tinggi
Tak ada hasil
Semua nihil

Dahi mengkerut, menyulam satu demi satu pikiran yang kusut
Menghitung jumlah kegagalan yang berurut

Rabu, Oktober 16, 2019

Jalan Tumpul

Photo by Alan Tang on Unsplash
Berada di ujung jalan
Titik tumpul bertemu
Ke sana
Ke sini
Tak tahu arah yang dituju

Berada diujung jalan

Merajut sepenggal angan
Menyaksikan hasrat yang kini basi

Berada di ujung jalan

Melesat jauh diangkasa
Melukis awan penuh warna

Berada di ujung jalan

Angin berhembus
Mengombang-ambingkan asa

Berada di ujung jalan

Haruskah langkah terhenti?
Haruskah langkah kembali?
Duduk termangu
Menyaksikan hasrat yang kini basi

Senin, Oktober 14, 2019

Ingatan Manis

Ingatan Manis
Cahaya lembayung mulai mengintip di balik awan
Senjanya terlihat samar-samar
Menutup sedikit demi sedikit siang yang mulai pudar

Jalanan terlihat lapang
Sudah banyak yang pulang
Menanti di rumah
Menyaksikan datangnya petang

Terdengar suara benda beradu
Kuali yang diaduk
Ayunan sudip meramu bumbu

Aromanya menyebar ke seluruh ruang
Pasti nikmat
Pasti sedap
Menghirup dalam-dalam
Rasa ingin segera menyantap

Sambil menanti
Sambil menunggu
Berharap-harap adzan segera berkumandang

Rapih tersaji
Semangkuk kolak pisang
Yang telah matang
Menahan lapar sedari pagi
Ingin segera menikmati

Minggu, Oktober 13, 2019

Perkataan

Photo by Brett Jordan on Unsplash
Kata-kata
Diucap penuh makna
Kata-kata
Dipikirkan
Lalu dikatakan

Kata-kata dirasakan
Kata-kata dibunyikan

Pengucapan kata-kata
Dengan cara terdalam
Dibalas dengan kata-kata terkelam

Kata-kata tersirat
Menimbulkan kagum dan terpikat
Kata-kata tersirat
Menimbulkan marah yang pekat

Hati-hati dalam berkata
Oleh sebabnya bisa tertusuk membekas
Menancap begitu dalam
Selalu terngiang, tak kunjung lepas

Selaraskan perkataan dengan tindakan
Selaraskan pemikiran dengan ucapan
Kelak semua akan dipertanggungjawabkan

Sabtu, Oktober 12, 2019

Bermalas-malasan

Photo by Sid Leigh on Unsplash

Terjebak pikiran mengambang
Menerbangkan angan-angan
Menyuarakan kelemahan
Semakin tumbuh
Semakin berkembang
Terbuai dalam kepasrahan

Membungkus impian rapat-rapat
Menyimpul tali dengan erat
Tak akan bisa
Tak akan mampu
Mengutuk diri dengan rasa mengeluh

Kaki lekat terpaku
Kaki lemah membeku
Asa berpasrah

Memupuk rasa malas
Berparas wajah lemas

Tak ingin bersusah payah
Tak ingin melakukan hal berguna
Hanya derita penuh nestapa
Yang akan tersisa

Sepertiga Malam

Photo by Gabriele Motter on Unsplash

Terbangun disepertiga malam
Bumi berselimut dinginnya malam
Sayup-sayup membuka mata terpejam

Jeri hati sudah menyiksa
Segera ingin mengadu pada Sang Pencipta

Sayup-sayup kaki melangkah
Membasuh wajah
Mensucikan raga

Sajadah panjang mulai dibentang
Mulut terbungkam, hati menggumam
Wajah basah tercurah air mata

Terbangun disepertiga malam
Do'a terhanyut dipekatnya malam
Membumbung tinggi ke bumantara

Jiwa rengkah karena lara
Kini berpasrah do'a pada Sang Pencipta

Kamis, Oktober 10, 2019

Di Balik Jendela

Photo by Danielle Dolson on Unsplash

Suara gemuruhnya terdengar
Hati terperanjat dalam pelukan
Menenangkan
Menghangatkan

Satu persatu air itu jatuh
Atap-atap basah
Tanaman basah
Tanah basah
Rahmat penuh berkah

Di balik jendela berdiam diri
Tetes demi tetes diamati

Di bawah rintikannya
Bocah-bocah mulai berlari-lari
Wajah-wajah tanpa dosa

Suara gemercik air
Berpadu padan dengan tawa
Wajah-wajah tanpa dosa

Menjulurkan tangan merasakan
Air yang berjatuhan
Suara mulai ramai bersahutan

Mengajak keluar
Mengajak bermain

Di balik jendela berdiam diri
Dekapan hangat melarang sedari tadi
Hingga tetesan terakhir
Hanya bisa mengamati

Koin-koin Receh

Photo by Jordan Rowland on Unsplash

Koin-koin receh di genggaman
Mengunjungi toko kecil di sudut jalan
Memilih kue-kue kesukaan
Sambil melirik koin-koin receh di genggaman

Koin-koin receh di genggaman
Sudah dihimpun berbulan-bulan
Ingin sekotak kue didapatkan

Koin-koin receh di genggaman
Sekotak kue sudah di tangan
Membawanya pulang dengan senyuman

Koin-koin receh di genggaman
Sudah dihimpun berbulan-bulan
Hadiah kecil yang mampu diberikan

Harapan dilantunkan
Merajut kebahagiaan
Hari penuh kebahagiaan

Selasa, Oktober 08, 2019

Kertas Buram


Desiran angin masih sama
Keinginan juga masih sama
Cahaya cakrawala menuntun langkah

Duduk di bangku
Lalu menunggu

Membawa kertas bertuliskan angan
Isinya sudah diubah, tak sama dengan kemarin

Derap langkah terdengar
Terlihat seseorang memasuki ruangan
Yang ditunggu
Sudah bertemu

Mulai bertanya ini dan itu
Menyuruh mengganti ini menjadi itu

Raut wajah ku menjadi asam
Harus mengerjakannya lagi hingga larut malam

Kertas buram selalu tersedia
Sebuah pena melukis diagram
Mengganti alur ini menjadi alur itu

Suara kipas tua berdenyit
Hawa dingin malam menghilang
Berganti panas pekat
Pikiran terpaku
Mengganti alur ini menjadi alur itu

Kepergian

Photo by Elias Domsch on Unsplash

Air matanya menggenang
Bahkan sudah tumpah tak tertahankan
Membiarkan kepergian anak semata wayang
Jauh merantau ke negeri seberang

Detik-detik berdetak malam itu
Suara tangis mengharu biru
Menyulam do'a berbenang ragu

Detik-detik berdetak malam itu
Menyaksikan tangis seorang ibu
Tampak terisak
Tampak pilu

Tangannya menggapai dan menahan, agar kepergian diurungkan
Tangannya menggapai dan menahan, agar raga tetap dalam dekapan

Terbelenggu renjana yang dalam
Sajadah panjang menjadi saksi, beribu do'a terucapkan

Temaram lampu tak surut membuat mata terpejam
Terbayang-bayang kepergian esok petang

Jumat, Oktober 04, 2019

Amplop Cokelat

Photo by Carol Jeng on Unsplash

Duduk tegap di kursi cokelat
Hawa panas nan pekat
Pakaian basah terkena keringat

Menyusun huruf-huruf menjadi tulisan
Baris demi baris menjadi perkataan
Menguntai harapan
Untuk memiliki pekerjaan

Setiap hari membuat surat lamaran
Setiap hari sudah disebarkan
Setiap hari menunggu adanya panggilan

Melangkah menyusuri jalanan
Sudah berpeluh-peluh
Sudah sangat kelelahan

Kepala panas
Kaki panas
Aspal panas
Harapan kandas

Pekerjaan halal yang diidamkan
Segala upaya sudah dilakukan
Namun kini tetap menjadi pengangguran

Jumat, September 27, 2019

Marah Meradang



Rasa kesal tak kunjung reda

Rasa marah terasa di dada
Menunggu berjam-jam lamanya
Namun tak nampak jua

Sudah berjanji akan pergi bersama

Tapi nyatanya malah meninggalkan begitu saja
Mencoba berlapang dada
Agar amarah tak menguasai jiwa

Menarik napas lalu menghembuskannya

Mencoba menenangkan pikiran
Namun percuma
Amarah telah menguasai jiwa

Degup jantung berdetak

Jarum jam bergerak
Yang ditunggu tak juga tampak

Sungguh kecewa dirasa

Sungguh merana dirasa
Tak ingin terulang lagi
Cukup hanya sekali ini

Kamis, September 26, 2019

Mimpi Semu

Photo by Johannes Plenio on Unsplash

Ini bukan negeri dongeng
Penuh hayalan
Penuh pengharapan

Awan bisa menjadi kecoklatan
Bumi bisa menjadi kebiruan
Setiap kejadian
Dibuat selalu menyenangkan

Ini bukan negeri dongeng
Punya sepatu kaca
Seketika hidup bahagia

Ini bukan negeri dongeng
Berharap bertemu pangeran
Tampan nan rupawan
Lalu tinggal di dalam istana kerajaan

Ini bukan negeri dongeng
Tidak ada kereta kencana
Tidak ada taman bunga

Jika ingin istana mewah nan megah
Segera bangun dari mimpi
Tanamkan dalam hati
Berjuang sekuat tenaga
Meraih cita-cita
Buatlah orang tua bangga
Dengan segenap prestasi

Selasa, September 24, 2019

Akhir Bulan

Photo by Nanda Green on Unsplash
Selalu ditunggu
Selalu dinanti
Kehadiranya sungguh berarti

Disaat-saat ini
Menjadi harapan
Disaat-saat ini
Penyejuk hati

Asa terasa temaram
Asa terasa kelam

Menahan segala rasa
Menahan segala rupa
Tampak saku menipis
Tampak saku meringis

Masa sebulan lamanya
Masa sebulan menantinya
Mendapatkannya akan seperti tirta
Di jenggala
Lara hilang seketika