Minggu, September 15, 2019

Milenialis Masa Kini

Photo by Clark Tibbs on Unsplash

Sebuah riwayat hadist mengatakan ”Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, keadaan kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum saat sibukmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu”(HR Al-Baihaqi).

Memang benar kita harus memanfaatkan segala hal dalam hidup ini, karena setiap peristiwa pasti ada masanya dan tak ada yang abadi. Begitu juga dengan usia muda, usia yang penuh dengan rasa semangat yang berapi-api. Para pemuda merupakan harapan bangsa dan agama, jika ingin masa depan nanti penuh dengan kebanggaan maka, sejak dini anak-anak harus dididik dengan baik dan benar agar menjadi pribadi yang cerdas, kreatif, dan taat beragama.

Banyak hal yang mudah dilakukan oleh pemuda-pemudi masa kini. Jika zaman dulu ada Muhammad Al-Fatih diusia yang masih sangat muda dengan kecerdasan dan ketaqwaannya pada Allah Subhana Wa Ta'ala telah berhasil menaklukkan kota Konstantinopel. Berkat perjuangannya itu, Islam bisa tersebar ke daratan Eropa. Maa Sya Allah, sungguh luar biasa.

Namun kini, perjuangan tetap bisa dilakukan dengan mengandalkan kecerdasan dan keterampilan. Saat ini semuanya serba canggih, setiap orang sudah memiliki smartphone. Baik tua maupun muda, penggunaan telpon genggam atau laptop kini menjadi alat kebutuhan yang dapat menunjang pekerjaan sehari-hari. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh pemuda-pemudi masa kini. Dengan akses internet yang mudah didapat, bisa dipergunakan untuk hal-hal positif.

Contoh kecil yang bisa dilakukan ialah banyaknya penjualan online yang kian marak. Berbagai macam kebutuhan bisa dijual melalui online, seperti makanan, pakaian. Jika kesulitan modal, pada tahap awal bisa menjadi reseller. Menjual produk-produk yang positif dengan bermodalkan smartphone dan internet maka para anak-anak muda sudah bisa mendapatkan keuntungan, yang nantinya hasil penjualan tersebut bisa membantu orang tua meringankan biaya pembayaran uang sekolah, atau setidaknya tidak perlu lagi meminta uang saku.

Update status merupakan hal lumrah yang dilakukan saat ini. Daripada menulis status-status galau mungkin bisa berjualan online, mempromosikan produk dengan kalimat yang benar, menarik, dan baik agar konsumen mendapatkan informasi yang lengkap dan nyaman saat berbelanja.

Selain itu jika selama ini dapat membuat status yang puitis mungkin memiliki bakat dalam hal menulis, bisa mengembangkan kemampuannya tersebut dengan mengikuti forum-forum atau komunitas untuk lebih menggali potensi diri. Mulai menulis ha-hal yang membuat semangat untuk mengajak orang-orang untuk melakukan hal-hal kebaikan, seruan untuk berdakwah.

Bahkan saat ini telah banyak anak-anak muda yang mulai membuka usaha dibidang IT, yaitu mendirikan sebuah perusahaan startup. Macam-macam startup yang kini tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari jasa pembuatan website, pembuatan aplikasi, pembelajaran online, memberikan jasa desian web, desain poster, dan lain-lain. Teknologi saat ini mudah untuk dipelajari, diakses, kapanpun dan dimana pun. Para freelancer yang bergerak di dunia IT juga semakin banyak dan semakin beragam kreatifitasnya.

Sabda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam “Ada tujuh golongan manusia yang akan Allah naungi dalam  naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya: pemuda yang tumbuh dalam suasana ibadah (ketaatan) kepada Tuhannya” (HR Al-Bukhari).

Manfaatkanlah masa muda dengan sebaik-baiknya dan semaksimalnya. Karena kelak di akhirat setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Terutama mengenai usia kita, dipergunakan untuk melakukan hal apa.

Jadilah pemuda yang berguna bagi orang-orang sekitar. Menjadi pribadi yang dapat memberikan banyak manfaat kepada orang banyak. Buatlah prestasi-prestasi yang membanggakan orang tua, negara dan agama. Tanaman keimanan dengan kuat dan bersungguh-sungguh, agar senantiasa tidak mudah goyah dan selalu melakukan kebaikan.

Sabtu, September 14, 2019

Printer

Photo by Bank Phrom on Unsplash

“Bang Jo, bang”, seseorang memanggil dari luar rumah sambil terus mengetuk pintu. Namun, yang sedari tadi dipanggil tidak ada sahutan, pintu rumah pun urung dibuka. Karena lelah orang itu pun mulai beranjak pergi dengan rasa kecewa. Orang-orang sering datang ke rumah Bang Jo untuk dimintai bantuannya. Karena Bang Jo memiliki sebuah komputer dan alat pencetak yang juga bisa menyalin berkas. Bang Jo juga cukup mahir  membuat desain kartu undangan. Dia memang tidak pernah meletakkan pamflet usaha di depan rumahnya, namun para tetangga dan teman-temannya selalu berkunjung jika memerlukan jasanya.

Seringnya ia bangun kesiangan karena banyak pesanan kartu undangan yang ia terima, mengakibatkan ia sampai harus begadang di malam hari. Jika menemuinya di pagi hari pasti akan kecewa karena pasti ia masih terlelap tidur. Atau terkadang ia sibuk memperbaiki printer tua miliknya yang sering macet tak mengeluarkan tinta saat proses mencetak.

Maklum saja printer itu sudah lama ia gunakan, kurang lebih 5 tahun. Ia tak berniat untuk menggantinya, selagi masih bisa menyala ia akan akan tetap memakainya. Jika rusak ia akan perbaiki sendiri walaupun terkadang tangan dan pakaiannya basah terkena cairan tinta.

Tulalit... tulalit...tulalit, bunyi alarm yang sudah diatur sebelumnya untuk membangunkan setiap pukul 10 pagi. “oii, masih ngantuk kali tapi hari ini banyak orang mau ngambil pesanan”, kata Bang Jo. Ia pun segera bangun dan mandi, tidak lupa menggosok gigi. Selesai mandi ia membuka pintu rumahnya agar orang-orang bisa datang berkunjung. Setelah semua dirasa sudah beres ia membeli sarapan kesukaannya yaitu lontong soto di sebuah warung yang berada tepat di depan rumahnya.

Sambil menyantap makanan, ia melihat ada yang datang menuju rumahnya. Menggunakan sepeda motor, dan pengendara itu memakai jaket bertuliskan “Ngantar Expres”.  “Mungkin ini kurir yang mau ngantar pesanan online ku”, kata Bang Jo.

Sesampainya di halaman rumah Bang Jo orang itu langsung memakirkan sepeda motornya dan berjalan ke depan pintu rumah,”Permisi, apa benar ini rumah Bpk. Paijo?”, tanya orang tersebut, “Ia benar, saya sendiri”, jawab Bang Jo. Ternyata benar orang tersebut adalah kurir yang ingin mengantar paket yang seminggu lalu dipesan oleh Bang Jo melalui pembelian online. “Saya mau mengantar paket, dan tolong ditandatangani sebagai bukti menerima kiriman”, kata kurir tersebut sambil memberikan paket tersebut dan kertas untuk ditandatangani oleh Bang Jo.

Setelah menandatangani kertas itu Bang Jo lekas kembali ke dalam rumah dan membuka kotak itu dengan rasa tidak sabar. Seminggu ia menunggu paket kiriman yang isinya sangat ia inginkan yaitu sebuah panci memasak yang berhasil ia beli dengan diskon 20%. Dia sungguh senang sekali, dengan hobinya memasak ia akan menggunakan panci itu untuk membuat kue dari resep yang telah ia racik sendiri.

Dia pun langsung meletakkan panci memasak itu di dapur dan lekas kembali ke meja belajarnya yang berada di ruang tamu.

“Assalamu’alaikum Bang Jo, tadi pagi aku udah kemari tapi pintunya nggk dibuka”, ucap Yanto. “Oiya maaf ya yan tadi masih tidur, abis begedang lagi, ayok masuk mau ambil pesanan kan?”, sahut Bang Jo.

“Iya bang, udah siapkan bang?”tanya Yanto.
“Udah ni kartu undangannya”, jawab Bang Jo sambil memberikan bungkusan plastik berisikan kartu undangan yang telah selesai dicetak. Setelah memberikan sisa uang pembayaran Yanto pun segera pamit meninggalkan rumah Bang Jo. Lalu Bang Jo melanjutkan kegiatannya seperti biasa.

Jumat, September 13, 2019

Monitor Coklat(Akhir)

Photo by 阿江 on Unsplash
(Akhir)
“Aduh, sakit kali “, kata Uci sambil memegang perutnya. Ia merasakan sakit yang teramat di bagian perutnya. Mengetahui hal itu sang ibu lekas membawanya ke rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, ia langsung di bawa ke ruang unit gawat darurat untuk segera diperiksa oleh dokter. Setelah beberapa saat kemudian ia didiagnosa mengalami sakit maag yang mengharuskan dirinya di rawat inap.

Sehari, dua hari. Si bungsu terbaring di rumah sakit. Tubuhnya lemas, untuk bergerak pun sulit. Pada saat masih sekolah dengan padatnya aktivitas membuatnya makan dengan tidak teratur, hal ini lah yang mengakibatkan mengalami sakit maag. Sebuah berita di tv menayangkan kegiatan perakitan sebuah komputer. 

Selama di rumah sakit hal yang hanya bisa ia lakukan adalah hanya menonton tv di kamar rawat inapnya. Menonton acara itu membuatnya teringat akan masa kecil dulu. Yang hanya dengan sekali melihat ia langsung mengagumi komputer bahkan langsung memiliki cita-cita untuk menjadi seseorang yang ahli dalam bidang itu.

Di tengah lamunannya, ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamar. Tok.tok..” Assalamu’alaikum”, suara seorang wanita dari luar kamar. “Wa’alaikumussalam”, jawab Uci. Wanita itu langsung membuka pintu dan masuk ke dalam dan menghampiri si bungsu. Ternyata itu ibunya, datang untuk menemui si bungsu yang sebelumnya pulang untuk membawa banyak perlengkapan yang dibutuhkan selama si bungsu dirawat di rumah sakit.

Setelah meletakkan barang bawaannya ibunya mengatakan “nanti kalo udah sembuh, Uci daftar kuliah ya. Kampus swasta pasti masih buka pendaftaran”. “Biayanya?”, tanya Uci penasaran. “Soal biaya InsyaAllah ada jalan. Yang penting Uci bisa sekolah yang lebih tinggi, nanti kuliahnya yang dekat rumah aja biar nggk jauh ke pusat kota sana, jadi bisa hemat, nggk perlu ngekost” jelas ibunya.

Mendengar itu si bungsu sangat senang. Maka dari itu ia harus lekas sembuh dan melanjutkan cita-citanya. Kali ini ia sangat bersungguh-sungguh untuk belajar. Ia tidak akan mengulangi kesalahannya yang dulu. Biaya kuliah yang mahal menjadi motivasi dan pengingat bahwa hal ini tidak boleh ia sia-siakan.

Selepas kembali dari rumah sakit dan keadaannya sudah jauh membaik. Ia segera pergi ke kampus swasta yang tak jauh dari rumahnya untuk mendaftar dengan jenjang pendidikan strata satu. Dan setelah mendapatkan jadwal perkuliahan, resmi lah ia menjadi seorang mahasiswi. 

Saat ini hari-harinya ia isi dengan belajar, belajar, dan belajar. Laptop jadul yang ia miliki saat masih duduk di bangku SMK selalu menemani si bungsu untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. 

Semasa kuliah benar-benar sangat menyenangkan. Ia bertemu dengan orang-orang pintar yang memahami dunia IT. Ia banyak bertanya mengenai web programming melalui teman-teman dan para dosen yang dengan senang hati membagi ilmu.

Si bungsu sangat menyukai web programming. Ia berlatih terus tanpa henti. Membuat banyak contoh-contoh program pengolah data atau website-website yang dapat mudah digunakan oleh orang-orang.

Tak terasa empat tahun lamanya. Kuliah pun usai. Kini si bungsu menjadi seorang freelancer programmer. Walaupun tidak menjadi “orang komputer” yang terkenal. Namun ia cukup senang dengan apa yang dicapainya saat ini. Dengan proyek kecil-kecilan yang ia terima, si bungsu tak perlu lagi meminta uang saku, bahkan dari penghasilannya ia bisa turut membantu orang tuanya. Musik dan puisi masih kerap ia lakukan walau hanya sebatas ditulis di buku harian.

“Wahai diri, terimakasih
  Tak pernah merubah haluan
  Walau ada rasa merubah arah
  Wahai diri, terimakasih
  Telah memilih jalan yang pekat
  Walau kabut banyak terlihat
  Wahai diri, terimakasih
  Telah tetap menjadi diri sendiri”
                                    -Uci-(dimasa kini)


Selesai....


Kamis, September 12, 2019

Monitor Coklat(4)

Photo by 阿江 on Unsplash
(4)
Hanya memiliki kemampuan seperti itu adalah hal yang mustahil, cita-citanya bisa terwujud. Ketika lulus sekolah, teman-temannya sudah menyibukkan diri dengan rencana ingin memasuki perguruan tinggi, baik itu swasta ataupun negeri yang berada di pusat kota. 

Masing-masing sudah memikirkan jurusan apa nantinya yang akan dituju saat memasuki bangku perkuliahan. Karena ini lah saat-saat yang menentukan masa depan. Atau bekerja sesuai bidang kejuruan yang selama tiga tahun ini telah dipelajari.  


Keputusan yang diambil saat ini akan menentukan apa yang akan terjadi dan akan menjadi siapa kita saat masa depan nanti.


Sedangkan si bungsu yang selama ini bersantai-santai dengan dunianya, tidak mau belajar, tidak menguasai pendidikan jurusannya. Tidak tahu langkah apa yang akan diambil dan keputusan apa yang hendak dibuat.


Selama ini tidak pernah bersungguh-sungguh memperbaiki diri. Jika ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi maka akan terbentur dengan biaya. Bekerja pun sudah pasti kemampuannya akan mengecewakan.


“Duh, gimana ini ya? masih kepengen jadi “orang komputer” tapi sekarang nyatanya nggk ada yang bisa dibuat. Mau lanjut kuliah pasti biayanya mahal”, gumam si bungsu penuh sesal.


Bak kata pepatah “penyesalan memang selalu datang belakangan,jika diawal itu disebut pendaftaran”. Kini penyesalan menghampiri si bungsu. Tak tau lagi harus seperti apa menyikapi situasi ini.


“Berandai-andai dimasa depan

  Memiliki cita nan rupawan
  Namun kini, diri terjebak  
  Dengan rasa sesak
  Akan ada esok hari yang akan dilalui
  Namun harap sudah tak berarti”
                                           -Uci- (dimasa ini)


Bersambung....


Rabu, September 11, 2019

Monitor Coklat(3)

Photo by 阿江 on Unsplash
(3)
Awan sudah mulai terlihat senja dengan warna oranye keemasan dan desiran angin malam mulai terasa. Sudah sore rupanya jalanan pun sudah terlihat sepi tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Orang-orang sudah mulai kembali ke rumah sedari tadi ingin istirahat melepas penat selepas bekerja, berdagang, sekolah dan lain-lain.

Sedangkan Uci, ia masih duduk di halaman sekolah dengan beberapa teman sambil menunggu  dijemput oleh ibunya. Tidak banyak, hanya siswa dan siswi yang masih berada di sekolah karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, termasuk Uci. Iya, si bungsu kini telah berhasil masuk sekolah yang diinginkannya juga jurusan yang sangat diidamkannya. Setelah berhasil lulus mengikuti berbagai tes ujian untuk masuk sekolah tersebut, ia sangat senang.

Menjadi anak SMK. Tubuhnya semakin tinggi namun karena mengikuti kegiatan ektrakurikuler yang menyita banyak waktu dan tenaga, membuat kulitnya semakin menghitam, dan kurus. Remaja yang menjelang dewasa. Ia hanya fokus dengan kegiatan-kegiatan di sekolah selepas jam belajar.

Bagaimana dengan cita-citanya? Si bungsu mulai lupa. Terlalaikan dengan aktivitasnya yang kian padat. Bahkan mendekati perlombaan-perlombaan seni musik yang ia ikuti sudah sangat menyita waktu, disela-sela jam belajar sedang berlangsung pun ia akan izin keluar kelas untuk berlatih dengan teman-teman kelompok musiknya. Setibanya di ruang musik teman-teman kelompoknya yang berasal dari kelas dan jurusan lain sudah menunggu. Sambil menunggu pelatih musik datang ia kerap membuat puisi sambil mendengarkan lagu-lagu. Perlombaan yang ikuti mewakili nama sekolah oleh sebab itu guru-guru mengizinkan jika ingin keluar kelas.

Tas ransel hitam yang berisikan banyak barang bawaan, seragam praktek kejuruan, buku-buku belajar yang tak pernah dibuka apalagi dipelajari, pakaian ganti untuk latihan musik. Selalu pulang sore hari. Kedua orang tua pun mulai mengeluh. Bukan karena tidak mengizinkan mengikuti kegiatan, namun karena si bungsu sudah semakin tak mau belajar.

Sungguh miris keadaannya kini, bercita-cita menjadi "orang komputer". Tetapi, dengan niat belajar yang kian menurun tidak ada yang bisa diharapkan. Bisa naik kelas saja sudah sangat bersyukur, setiap pembagian raport orang tuanya akan mengelus dada melihat nilai yang pas-pasan itu pun karena sudah mengikuti ujian ulangan(remedial) berulang kali. Nilai ujian pertama, ya sudah pasti sungguh menyedihkan.

Kedua orang tuanya tidak pernah berdiam diri, selalu mengingatkan untuk belajar. Karena pentingnya pendidikan akan berdampak pada diri sendiri.

“Uci katanya mau jadi “orang komputer”, tapi malas belajar. Walaupun capek tetep harus belajar, baca buku”, ucapan lirih dari ibunya. Karena segala macam peringatan sudah dilakukan dan disampaikan, hingga akhirnya keluar lah ancaman bahwa harus berhenti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lagi.

Kali ini si bungsu menurut. Ia tak lagi mengikuti kegiatan apapun di sekolah. Mulai belajar, mulai mendengerkan setiap perkataan gurunya, tak pernah lagi keluar kelas. Namun, saat teman-temannya serius belajar, ia membuat puisi. Di rumah juga begitu. Ia sudah berusaha untuk belajar, namun lebih banyak terarah minatnya pada puisi dan musik.

Sebabnya, ia tak terlalu paham dengan pelajaran. Setidaknya masih ada yang bisa disyukuri, dari sekian banyak pelajaran teknik komputer  ia hanya bisa menginstal sistem operasi windows.

Bersambung….


(sudah hampir mendekati akhir cerita)

Selasa, September 10, 2019

Monitor Coklat(2)


Photo by 阿江 on Unsplash
(2)
“Kalo gitu mulai sekarang harus rajin belajar, paling penting belajar komputer. Tapi pertama-tama selesai makan, cuci tangan dulu”, ia pun bergegas ke dapur meletakkan piring kotor dan mencuci bersih tangannya.

Saat itu juga si bungsu sangat bertekad keras ingin menjadi “orang komputer”, yang definisi dan detail profesinya seperti apa nanti ia juga tak paham. Yang ia tahu hanya rasa keren dan bangga jika berada di dunia itu. Imajinasi anak-anak sangat unik, terkadang ingin menjadi dokter karena banyak teman yang memilih itu atau menjadi seorang guru karena setiap hari selalu ia temui di sekolah. Hari berlalu, detak-detik terlalui. Kita tidak pernah tau akan dimana kita akan berada esok hari dan apa yang akan terjadi beberapa waktu nanti.

Jika ada keinginan pasti ada jalan. Jika ada kemauan pasti akan bersungguh-sungguh mewujudkan. Tergantung dengan kerja keras kita untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi menjadi nyata agar tak hanya angan semata.

“Uci, sebentar lagi kita mau lulus SMP, abis ini kau mau nyambung sekolah kemana?”tanya ayu penasaran. “Aku pengen masuk sekolah SMK yang ada jurusan teknik komputer jaringan, biar jadi orang komputer!”,jawab Uci dengan wajah yang berbinar. Ayu pun dengan semangat mengatakan ”aku pengen masuk SMA”.

“Yah , kali ini kita pisah deh sekolahnya, padahal udah dari SD samaan terus”,respon uci dengan sedih. Di dunia ini memang tidak selamanya ada keinginan yang sama, setiap orang punya jalannya masing-masing. “Nggk apa-apa yang penting tetep bisa jaga komunikasi dan silahturahmi”, Ayu berusaha menyemangatin.

Sambil menunggu jam istirahat selesai, perbincangan itu pun terus berlanjut. Membicarakan banyak hal juga saling bercanda dengan teman-teman yang lain. Keseruan itu sambil diiringi musik yang yang sedang diputar di radio melalui telepon genggam milik salah seorang teman

“Kupetik bintang untuk kau simpan
Cahayanya tenang berikan kau perlindungan
Sebagai pengingat teman
Juga sbagai jawaban
Semua tantangan”

“Walaupun udah 5 tahun yang lalu, lagunya tetep enak yaa. Lirik lagunya juga bagus, kayak puisi. Nanti coba-coba buat puisi deh,”gumam Uci dalam hatinya.

Bersambung….




Senin, September 09, 2019

Monitor Coklat(1)

Photo by 阿江 on Unsplash
(1)
Angin panas sungguh terasa di kulit. Rumah semi permanen beratapkan seng memang memberikan hawa panas di siang hari, dan dingin yang menyengat ketika malam. Siang itu seperti biasa, pukul satu kiranya. 

Setelah pulang sekolah, lekas berganti baju langsung menghadapkan diri di depan layar tv bertabung 14inc berwarna hitam dan banyak debu di tiap-tiap sudut. Sungguh semangat untuk mengetahui kisah lanjutan dari kisah yang tiap hari ia liat.

Si bungsu setiap hari menonton sebuah acara yang sangat ia sukai. Episode demi episode tak pernah ia lewatkan. “Hari ini ceritanya juga seru banyak alat-alat canggih”,gumamnya dalam hati. Ditengah asyiknya menonton, ada suara yang memanggil dari arah dapur,”Uciiii, makan siang dulu”, sang ibu menyeru si bungsu untuk segera makan siang. Si bungsu pun lekas menuju dapur mengambil piring disertai nasi dan ikan sambal tak lupa sayur daun ubi tumbuk yang masih hangat. Setelah semua dirasa lengkap dengan langkah yang terburu-buru ia kembali duduk menonton, takut tertinggal tayangan.

Sungguh panas siang itu, melahap makanan sampai bercucuran keringat. Rumahnya sungguh sederhana namun, sangat bersukur ada tempat untuk bisa ditinggali dengan tiga orang anak dengan ayah dan ibunya. Sang ayah yang hanya seorang pegawai negeri sipil dengan golongan rendah. Dengan gaji pas-pasan bahkan hampir setiap masanya kurang untuk kebutuhan makan juga keperluan sekolah masing-masing anaknya yang sangat beragam, tidak akan terpikirkan untuk memperbaiki rumah menjadi sedemikian rupa. Yang ada saat ini, yang tampak saat ini itulah yang dinikmati begitulah kiranya.

Sang pembawa acara di pertunjukan tv itu menunjukkan alat-alat canggih pada masa itu. Berbagai peralatan yang bisa membantu memudahkan pekerjaan manusia. Dan ada satu alat yang sangat luar biasa alat itu bentuknya mirip layar tv, ada benda persegi yang diletakkan di sampingnya, cara menulisnya melalui sebuah papan yang berisikan tombol angka dan huruf yang berjejer juga ada benda kecil yang bisa bergerak-gerak. Di tengah bicaranya sang pembawa acara mengatakan bahwa alat itu namanya komputer.

Alat itu bisa melakukan banyak pekerjaan, mulai dari menghitung, membuat surat, dan lain-lain. Si bungsu mulai mengagumi alat itu, “kalo udah besar nanti mau kerja jadi orang komputer, pasti keren”, inginya dalam hati. Begitulah pemikiran anak kelas lima SD, sangat polos belum mengetahui bahwa dunia ini sungguh luas.

Bersambung....

Selasa, Agustus 20, 2019

Angan Rindu

Angan Rindu
Bias ingatan
Bias senyuman

Dua tahun berlalu
Hari-hari kelabu
Hembusan nafas memburu rindu

Sudah Pagi
Sudah tak ada suara lembut
Penuh Kasih
Menyadarkan diri
Dari lelapnya mimpi

Jika pergi bisa kembali
Ku harap kau bisa hadir lagi

Sungguh tak mungkin
Berpengharap seperti itu
Tapi ini benar-benar angan
Yang ingin menjadi kenyataan

Kamis, Juli 18, 2019

Rabu, Juli 10, 2019

Laut Jingga

Laut Jingga
Langit senja mulai terlihat
Ada yang sedang pulang
Ada yang sedang istirahat

Tapi..
Tidak di sini
Di ujung pantai ini
Mereka mulai pergi lagi

Beradu dengan ombak
Beradu dengan nasib
Mencari rezeki

Mungkin tak banyak yang didapat
Tapi cukup untuk megisi perut
Yang terasa pekat

Setiap hari
Setiap waktu
Adalah hal yang selalu dilalui
Karena hidup tak hanya hari ini
Masih ada esok pagi
Masih ada harapan-harapan baru
Yang harus dipenuhi
Tetap berjuang demi mereka yang dikasihi