Minggu, Oktober 20, 2019

Menghapus Pupus

Photo by Marion Michele on Unsplash
Pijakan rapuh
Langkah tertatih

Bangun dan beranjak dari tanah basah
Sudah melebur ke dalam sukma
Membuang jauh-jauh pikiran busuk yang mengajak lagi berpasrah

Desiran angin lembut
Terasa menggit dingin di kulit
Tubuh terhuyung
Pandangan samar berkabut

Gemercik air sungai
Nyaring terdengar
Berdebar-debar
Menanti-nanti
Terbawa penasaran, kemana hulunya berujung

Perlahan tampak berubah
Perlahan tampak indah
Terhampar bianglala
Di langit biru, yang dulunya kelabu

Jumat, Oktober 18, 2019

Sebuah Penghakiman

Sebuah Penghakiman
Sehelai rambut
Lalu dibagi
Melewati jalan
Berapi-api
Akankah diri bisa melewati?

Menyaksikan siksa di depan mata
Tubuh menggigil
Tubuh meringkuk
Menunggu giliran yang pasti tiba

Keringat bercucuran
Segela perbuatan dihadapkan
Kemana hendak berlari?
Kemana hendak bersembunyi?
Bahkan raga tak sanggup
Mengelak dari teriknya sinar matahari

Mencari-cari
Meminta-minta
Datangnya sebuah pertolongan
Saat diri dihakimi

Mulut terbungkam
Tangan bergumam
Bersaksi atas perbuatan yang kelam

Pupus (2)

Pupus (2)
Makin terbenam ke ruang yang kelam
Tenggelam ke dasar titik terdalam
Turut terbawa arus hingga menghilang

Lampu sudah tak berpijar
Cahaya gemintang semakin memudar

Cita terkulai menjadi bangkai
Tergantung dan tak tersentuh

Satu persatu perkataan menyeru
Menggunting putus harapan
Menyambung lidah, banyak repetan

Tersemat langkah ingin melanjutkan
Menjahit kembali yang telah terkoyakkan

Namun ragu melekat, menempel begitu erat
Akankah diri sanggup?
Akankah diri mampu?
Jalan buntu selalu ditemu

Pupus (1)

Pupus (1)
Tidak ada yang tersisa
Patah dan bengkok seluruh jiwa
Perlahan namun pasti menggerogoti jari jemari

Gagasan terasa hampa
Sekedar sebentar menjejakkan
Tak ada hasil
Semua nihil

Pena tergeletak begitu saja
Kertas-kertas bersisa percuma

Jemari itu sudah terhenti
Menulis mimpi yang dulu dijunjung tinggi
Tak ada hasil
Semua nihil

Dahi mengkerut, menyulam satu demi satu pikiran yang kusut
Menghitung jumlah kegagalan yang berurut

Rabu, Oktober 16, 2019

Jalan Tumpul

Photo by Alan Tang on Unsplash
Berada di ujung jalan
Titik tumpul bertemu
Ke sana
Ke sini
Tak tahu arah yang dituju

Berada diujung jalan

Merajut sepenggal angan
Menyaksikan hasrat yang kini basi

Berada di ujung jalan

Melesat jauh diangkasa
Melukis awan penuh warna

Berada di ujung jalan

Angin berhembus
Mengombang-ambingkan asa

Berada di ujung jalan

Haruskah langkah terhenti?
Haruskah langkah kembali?
Duduk termangu
Menyaksikan hasrat yang kini basi

Senin, Oktober 14, 2019

Ingatan Manis

Ingatan Manis
Cahaya lembayung mulai mengintip di balik awan
Senjanya terlihat samar-samar
Menutup sedikit demi sedikit siang yang mulai pudar

Jalanan terlihat lapang
Sudah banyak yang pulang
Menanti di rumah
Menyaksikan datangnya petang

Terdengar suara benda beradu
Kuali yang diaduk
Ayunan sudip meramu bumbu

Aromanya menyebar ke seluruh ruang
Pasti nikmat
Pasti sedap
Menghirup dalam-dalam
Rasa ingin segera menyantap

Sambil menanti
Sambil menunggu
Berharap-harap adzan segera berkumandang

Rapih tersaji
Semangkuk kolak pisang
Yang telah matang
Menahan lapar sedari pagi
Ingin segera menikmati

Minggu, Oktober 13, 2019

Perkataan

Photo by Brett Jordan on Unsplash
Kata-kata
Diucap penuh makna
Kata-kata
Dipikirkan
Lalu dikatakan

Kata-kata dirasakan
Kata-kata dibunyikan

Pengucapan kata-kata
Dengan cara terdalam
Dibalas dengan kata-kata terkelam

Kata-kata tersirat
Menimbulkan kagum dan terpikat
Kata-kata tersirat
Menimbulkan marah yang pekat

Hati-hati dalam berkata
Oleh sebabnya bisa tertusuk membekas
Menancap begitu dalam
Selalu terngiang, tak kunjung lepas

Selaraskan perkataan dengan tindakan
Selaraskan pemikiran dengan ucapan
Kelak semua akan dipertanggungjawabkan

Sabtu, Oktober 12, 2019

Bermalas-malasan

Photo by Sid Leigh on Unsplash

Terjebak pikiran mengambang
Menerbangkan angan-angan
Menyuarakan kelemahan
Semakin tumbuh
Semakin berkembang
Terbuai dalam kepasrahan

Membungkus impian rapat-rapat
Menyimpul tali dengan erat
Tak akan bisa
Tak akan mampu
Mengutuk diri dengan rasa mengeluh

Kaki lekat terpaku
Kaki lemah membeku
Asa berpasrah

Memupuk rasa malas
Berparas wajah lemas

Tak ingin bersusah payah
Tak ingin melakukan hal berguna
Hanya derita penuh nestapa
Yang akan tersisa

Sepertiga Malam

Photo by Gabriele Motter on Unsplash

Terbangun disepertiga malam
Bumi berselimut dinginnya malam
Sayup-sayup membuka mata terpejam

Jeri hati sudah menyiksa
Segera ingin mengadu pada Sang Pencipta

Sayup-sayup kaki melangkah
Membasuh wajah
Mensucikan raga

Sajadah panjang mulai dibentang
Mulut terbungkam, hati menggumam
Wajah basah tercurah air mata

Terbangun disepertiga malam
Do'a terhanyut dipekatnya malam
Membumbung tinggi ke bumantara

Jiwa rengkah karena lara
Kini berpasrah do'a pada Sang Pencipta

Kamis, Oktober 10, 2019

Di Balik Jendela

Photo by Danielle Dolson on Unsplash

Suara gemuruhnya terdengar
Hati terperanjat dalam pelukan
Menenangkan
Menghangatkan

Satu persatu air itu jatuh
Atap-atap basah
Tanaman basah
Tanah basah
Rahmat penuh berkah

Di balik jendela berdiam diri
Tetes demi tetes diamati

Di bawah rintikannya
Bocah-bocah mulai berlari-lari
Wajah-wajah tanpa dosa

Suara gemercik air
Berpadu padan dengan tawa
Wajah-wajah tanpa dosa

Menjulurkan tangan merasakan
Air yang berjatuhan
Suara mulai ramai bersahutan

Mengajak keluar
Mengajak bermain

Di balik jendela berdiam diri
Dekapan hangat melarang sedari tadi
Hingga tetesan terakhir
Hanya bisa mengamati